Luhut B Panjaitan

JAKARTA, THENEWSULSEL.COM – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan bahwa Indonesia akan menutup diri sementara waktu setelah adanya varian baru COVID-19 dari Inggris.

Dalam program Indonesia Business Forum tvOne, Luhut menjelaskan, pihaknya sudah mengumpulkan berbagai disiplin ilmu menyangkut kesehatan. Seperti ahli paru hingga lembaga Eijkman Institute for Mulecular Biology.

"Jadi kita sepakat untuk orang yang datang dari Inggris maupun dari beberapa negara lain termasuk juga Australia, itu selama 2 minggu ke depan kita tidak benarkan masuk ke Indonesia," kata Luhut, Rabu malam, 23 Desember 2020.

Termasuk untuk WNI yang berada di luar atau dari negara-negara tersebut dan hendak kembali ke Tanah Air. Luhut mengatakan, warga Indonesia yang akan kembali nantinya harus menjalani proses karantina.

"Dan termasuk orang Indonesia yang datang atau balik dari luar, dia harus melakukan rapid test dan kemudian tinggal di karantina yang disiapkan oleh pemerintah selama 5 hari," jelas politisi senior Partai Golkar itu.

Usai karantina tersebut, kata Luhut, nantinya akan kembali dilakukan tes terhadap WNI tersebut. Jika memang negatif, maka bisa kembali ke keluarganya di Tanah Air. Luhut mengatakan, hal itu dilakukan pemerintah berkaca pada kasus yang terjadi di Australia.

"Karena kita tidak mau kejadian seperti Australia ada beberapa orang dari UK yang datang ke sana ternyata bawa masalah itu, varian baru tadi, dan sekarang di Australia juga jadi masalah," jelasnya.

Varian baru virus corona COVID-19 telah terdeteksi di Inggris dan dinilai lebih mudah menyebar. Hal ini terbukti dengan penyebaran varian lain itu di beberapa negara di luar Inggris.

Tak sedikit pakar yang mengkhawatirkan varian lain dari mutasi virus SARS-CoV-2 ini. Meski belum banyak data terkait virus corona jenis baru ini, peneliti sudah melihat adanya potensi penularan yang begitu cepat dan luas dibanding varian sebelumnya.

Baca: Lihat Masyarakat Antre di Bandara, Ide Buat Nurdin Abdullah Gratiskan Rapid Test Antigen

Otoritas Eropa bahkan menganggap ini sebagai masalah yang sangat serius. (*)


Baca juga